Welcome to My Blog

Universitas Konservasi

Universitas Negeri Semarang, Sehat Unggul Sejahtera.

BK FIP UNNES 2013

BK 2013! Solid...

Unique

Unique is specialness in difference

Fungsionaris Hima BK

Hima BK! Siap BERAKSI!

Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling 2


D.  Orientasi Bimbingan dan Konseling
Orientasi yang dalam hal ini adalah “pusat perhatian” atau “titik berat pandangan”. Dalam hal ini orientasi bimbingan dan konseling lwbih mengacu pada titik berat pandangan konselor dalam menyelenggarakan bimbingan dan konseling. Orientasi bimbingan dan konseling terbagi menjadi manjadi 3, yaitu:
1. Orientasi Perseorangan,
Orientasi perseorangan dalam bimbingan dan konseling menghendaki agar konselor menitik beratkan   pandangan siswa secara individual. Pemahaman terhadap semua siswa itu penting. Berkenaan dengan isu individu atau kelompok, konselor memilih individu sebagai titik berat pandangannya, sedangkan kelompok dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi individu. Sejumlah kaidah yang berkaitan dengan orientasi perorangan dalam bimbingan dan konseling dapat dicatat sebagai berikut:
·      Semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling diarahkan  bagi peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang menjadi sasaran layanan.
·     Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan berkenaan dengan individu untuk memahami kebutuhan-kebutuhan, motivasi-motivasinya, dan kemampuan-kemampuan potensialnya, yang semuanya unik, serta untuk membantu individu agar dapat menghargai kebutuhan, motivasi, dan potensinya itu kea rah pengembangannya yang optimal, dan pemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi diri dan lingkungan.
·         Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individual.
·       Adalah menjadi tanggungjawab konselor untuk memahami minat, kemampuan, dan perasaan klien serta untuk menyesuaikan program-program pelayanan dengan kebutuhan klien setepat mungkin.
2. Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan dalam bimbingan dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya peranan perkembangan yang terjadi dan yang hendaknya diterjadikan pada diri individu. Bimbingan dan konseling memusatkan perhatiannya pada keseluruhan proses perkembangannya. Peranan bimbingan dan konseling adalah memberikan kemudahan-kemudahan bagi gerak individu menjadi alur perkembangannya. Orientasi perkembangan justru merupakan ciri khas yang menjadi inti gerakan. Perkembangan merupakan konsep inti, serta menjada tujuan sebagai layanan bimbingan dan konseling.Telah ditegaskan bahwa dalam bimbingan dan konseling bertujuan memberikan kemudahan yang berlangsung perkembangan yang berkelanjutan.
            Secara khusus Thompson & Rudolph (1983) melihat perkembangan individu dari sudut pandang perkembangan kognisi. Anak-anak berkemunakinan mengalami hambatan perkembangan kognisi dalam 4 bentuk yaitu:
  1.  Hambatan egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemingkinan lain di luar                  apa yang tidak dipahaminya.
  2.  Hambatan konsentrasi, yaitu ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada  lebih dari satu aspek tentang semua hal.
  3.  Hambatan reversibilitas, yaitu ketidakmampuan menelusuri alur yang terbalik dari  alur yang dipahami semula.
  4.  Hambatan transformasi, ketidakmampuan meletakkan sesuatu pada susunan urutan  yang  ditetapkan.

Tugas bimbingan dn konseling adalah menangani hambatan-hambatan perkembangan itu.

3.  Orientasi Permasalahan
Orientasi permasalahan ini adalah orientasi yang mewaspadai akan adanya masalah-masalah yang timbul akibat perbuatan-perbuatan yang tidak memungkinkan. Roos L. Money membagi 330 masalah yang digolongkan dalam 11 kelompok masalah yaitu :
a.    Perkembangan jasmani dan kesehatan (PJK)
b.   Keuangan, keadaan lingkungan dan pekerjaan (KLP)
c.    Kegiatan social dan reaksi (KSR)
d.   Hubungan muda-mudi, pacaran dan perkawinan (HPP)
e.    Hubungan social kejiwaan (HSK)
f.    Keadaan pribad kejiwaan (KPK)
g.   Moral dan agama (MDA)
h.   Keadaan rumah tangga dan keluarga (KRK)
i.     Masa depan pendidikan dan pekerjaan (MPP)
j.     Penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah (PTS)
k.   Kurikulum sekolah dan prosedur pengajaran (KPP)
E. Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling memiliki peranan penting, baik bagi individu yang berada dalam lingkungan sekolah, rumah tangga (keluarga) maupun masyarakat pada umumnya. Berikut peranan bimbingan dan konseling pada masing-masing ruang lingkup kerja:
a.       Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal yang secara khusus dibentuk untuk menyelenggarakan pendidikan bagi warga masyarakat. Dalam kelembagaan sekolah terdapat sejumlah bidang kegiatan dan bidang pelayanan bimbingan dan konseling mempunyai kedudukan dan peranan yang khusus.
·         Keterkaitan antara bidang pelayanan bimbingan konseling dan bidang-bidang lainnya
Bidang – bidang tugas atau pelayanan yang saling terkait hendaknya secara lengkap ada apabila diinginkan agar pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan baik untuk memenuhi secara optimal kebutuhan peserta didik dalam proses perkembangannya. Berikut bidang-bidang pelayanan di sekolah:
1.      Bidang kurikulum dan pengajaran meliputi semua bentuk pengembangan kurikulum dan pelaksanaan pengajaran.
2.      Bidang administrasi atau kepemimpinan meliputi berbagai fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijaksanaan  serta bentuk kegiatan pengelolaan dan administrasi sekolah.
3.      Bidang kesiswaan meliputi berbagai fungsi dan kegiatan yang mengacu pada pelayanan kesiswaan secara individual.
·         Tanggung jawab konselor sekolah
Konselor sekolah merupakan tenaga utama dan inti serta ahli dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Dalam menjalankan tugasnya, konselor sekolah memiliki dan mewujudkan tanggung jawabnya kepada siswa, orangtua, sejawat, masyarakat, diri sendiri, dan profesi.
b.      Pelayanan bimbingan dan konseling di luar sekolah
Di luar sekolah, pelayanan bimbingan dan konseling diselenggarakan di dalam keluarga dan di lembaga-lembaga serta bidang-bidang lain dalam masyarakat luas. Dalam kaitan itu, konselor berada dimana-mana, bekerja di berbagai lembaga dalam berbagai bidang kehidupan, bekerja sama dengan berbagai pihak dan menawarkan jasa bimbingan dan konseling secara luas dalam masyarakat. Untuk pelayanan yang berdimensi luas itu diperlukan konselor multidimensional.
F. Kesalahpahaman tentang Bimbingan dan Konseling
                    Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman. Kesalahpahaman tersebut pertama-tama perlu dicegah penyebarannya dan kedua perlu diluruskan apabila diinginkan agar gerakan pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya dapat berjalan dan berkembang dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktik penyelenggaraannya. Kesalahpahaman yang sering dijumpai di lapangan antara lain :
  1. Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan
  2. Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
  3. Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat
  4. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat insidental
  5. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja
  6. Bimbingan dan konseling melayani “orang sakit” dan / atau “kurang normal”
  7. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
  8. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
  9. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
  10. Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja
  11. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater
  12. Menganggap hasilpekerjaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat
  13. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
  14. Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling. (Misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap lainnya).
  15. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang ringan saja.

G. Visi Bimbingan dan Konseling
Visi adalah sesuatu yang didambakan untuk demiliki di masa depan. Visi ini merupakan gambaran aspirasi masa depan yang umum dalam mencapainya. Dari sudut pandang Bimbingan dan Konseling sebagai profesi bantuan, layanan konseling dilakukan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dengan cara memfasilitasi perkembangan individu atau kelompok sesuai dengan perkembangan, kemampuan yang dihadapi dalam perkembangannya.
Visi Bimbingan dan Konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedia-nya pelayanan bantuan dalam memberikan dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individuberkembang secara optimal, mandiri,dan bahagia.dan juga mewujudkan perkembangan diri dan kemandirian yang optimal sesuai dengan hakekatnya, baik sebagai mahluk individu atau mahluk sosial.

Referensi :
·         Mugiarso, Heru.2007.Bimbingan dan Konseling. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang
·         Prayitno & Erman Amti.2004.Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. PT. Rineka Cipta. Jakarta
· http://belajaritusinau.blogspot.com/2012/04/visi-misi-dan-paradigma-bimbingan-dan.html diakses pada   hari Selasa tanggal 17 September  2013 pukul 11.44 WIB

·         http://belajaritusinau.blogspot.com/2012/04/hakekat-bimbingan-dan-konseling.html diakses pada hari Selasa tanggal  17 September 2013 pukul 11.59 WIB

Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling 1


A.    Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance yang didalamnya terkandung makna menunjukkan, memimpin, menuntun, mengatur, mengarahkan, memberi nasehat, Setzer & Stone (1966:3) menemukan bahwa guidance berasal dari kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur atau mengemudikan). Bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu (Bernard & Fullmer,1969). Bimbingan dapat diartikan sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur, cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Ciri-ciri Bimbingan adalah berangsur terus menerus, berlangsung sejak dini, proses pengembangan, layanan untuk semua, dan bersifat umum.
Unsur-unsur bimbingan yaitu sebagai berikut :
1.      Proses : mengindikasikan adanya perubahan secara berangsur angsur dalam kurun waktu tertentu.
2.      Membantu : Memberikan pertolongan dalam menghadapi dan mengatasi tantangan atau kesulitan yang dialami seseorang dalam hidupnya.
3.      Orang-perorang : menunjuk pada individu yang diberi bantuan.
4.      Mamahami diri : mengenal diri secara mendalam, mencakup pemahaman terhadap kekuatan dan keterbatasan diri dan potensi dalam dirinya sehingga dapat membuat tujuan-tujuan dalam hidupnya.
5.      Lingkungan hidup : meliputi segala sesuatu yang menjadi ruang lingkup kehidupan seseorang.
Sedangkan Konseling berasal dari bahasa Latin yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Menurut Mc Daniel,1956. konseling adalah suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang di tunjukan pada pemberian batuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendirinya dan lingkunganya. Jadi konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli. Unsur-unsur konseling : proses konseling, konselor, konseli/klien, terdapat masalah, melalui wawancara, dan pemecahan masalah.
Jadi Bimbingan dan Konseling adalah merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
B.     Tujuan Bimbingan dan Konseling
       Bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri dari atas tujuan umum dan tujuan khusus.
a)    Tujuan umum bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan    secara optimal sesuai dengan bakat, kemempuan, minat dan nilai-nilai, serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu (klien). Termasuk ke dalam tujuan umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mandiri dengan ciri-ciri mempumemahami dan menerima dirinya sendiridan lingkungannya, membuat keputusan dan rencana yang realistik, mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri.
b)    Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. Tujuan-tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien, baik yang menyangkut perkembangan maupu kehidupannya.
C.      Hubungan, Persamaan, dan Perbedaan Bimbingan dan Konseling
1.      Hubungan bimbingan dan konseling
      Menurut moser dan moser ( dalam prayitno,1978:643 ) menyatakan bahwa di dalam keseluruhan pelayanan bimbingan, konseling di anggap sebagai inti dari proses pemberian bantuan.Sejalan dengan ini Mortesen dan Schmuller ( 1976:56 ) menyatakan lebih tegas bahwa konseling adalah jantung hatinya program bimbingan. Menurut Mohamad Surya (1988), ada tiga pandangan mengenai hubungan antara bimbingan dan konseling. Pandangan pertama berpendapat bahwa bimbingan sama dengan konseling. Pandangan kedua berpendapat bahwa bimbingan berbeda dengan konseling, baik dasar maupun cara kerja. Menurut pandangan kedua, bimbingan merupakan pendidikan sedangkan konseling merupakan psikoterapi yaitu usaha untuk menolong individu yang mengalami masalah. Pandangan ketiga berpendapat bahwa bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang terpadu, keduanya tidak saling terpisah. Berkaitan dengan pandangan ketiga ini, Downing (1998); Hansen, Stefic, dan Warner (1977) dalam Prayitno (1978), menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu pelayanan khusus yang terorganisasi dan terintegrasi ke dalam program sekolah untuk menunjang kegiatan perkembangan siswa secara optimal, sedangkan konseling adalah usaha pemberian bantuan kepada murid secara perorangan dalam mempelajari cara-cara baru guna penyesuaian diri.
2.      Persamaan bimbingan dan konseling
    Persamaan antara bimbingan dan konseling adalah terletak pada tujuan yang hendak dicapai yaitu sama-sama berusaha memandirikan individu, sama-sama diterapkan dalam persekolahan dan sama-sama mengikuti norma-norma yang di selenggarakan.
3.      Perbedaan bimbingan dan konseling
  Perbedaan bimbingan dan konseling yaitu terletak pada segi isi kegiatan dan tenaga yang menyelenggarakan.
   Dari segi isi, bimbingan lebih bersangkut paut dengan usaha pemberian informasi dan kegiatan pengumpulan data tentang siswa dan lebih menekankan pada fungsi pencegahan.sedangkan konseling merupakan bantuan yang dilakukan dalam pertemuan tatap muka antara dua orang manusia yaitu konselor dan klien.
    Dari segi tenaga, bimbingan dapat di lakukan oleh orang tua,guru, wali kelas, kepala sekolah dan orang dewasa yang lainya kepada individu ( siswa ) yang memerlukanya,sedangkan konseling hanya dapat di lakukan oleh tenaga yang telah terdidik dan terlatih.

Referensi :
·         Mugiarso, Heru.2007.Bimbingan dan Konseling. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang
·         Prayitno & Erman Amti.2004.Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. PT. Rineka Cipta. Jakarta
·         http://ayyundud.blogspot.com/2012/04/makalah-ddbk-individu.html , diakses pada hari Selasa tanggal  17 September  2013 pukul  11.48 WIB
·         http://irvanhavefun.blogspot.com/2011/07/hakekat-bimbingan-dan-konseling.html diakses pada hari Selasa tanggal 17 September  2013 pukul 11.54 WIB
http://hiqam.wordpress.com/2012/05/12/hakekat-bimbingan-konseling/  diakses pada hari Selasa tanggal 17 September  2013 pukul 11.56 WIB

Rasional Bimbingan dan Konseling (Lanjutan)



2. Psikologis
Berkaitan dengan dunia pendidikan, Bimbingan Konseling memiliki peran yang penting untuk membantu peserta didik dalam proses perkembangannya menuju kedewasaan dengan kepribadian yang kuat serta mempunyai kesadaran yang tinggi. Salah satu aspek dalam Bimbingan Konseling adalah aspek psikologis, dimana Bimbingan Konseling di sekolah melihat bahwa peserta didik pada dasarnya merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan berbagai macam karakteristiknya. Aspek psikologis tentunya  menimbulkan masalah psikologi terhadap masing-masing siswa sebagai individu, sehingga menuntut adanya upaya pemecahan melalui bimbingan dan konseling bagi peserta didik. Beberapa masalah tersebut antara lain :
1.      Masalah perkembangan psikologi
Proses perkembangan psikologi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari diri individu maupun dari luar. Dari dalam dipengaruhi oleh faktor kematangan danbawaan, sedangkan dari luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
2.      Masalah Perbedaan Individu
Aspek perbedaan individual yang perlu mendapatkan perhatian antara lain adalah kecerdasan, kecakapan, hasil belajar, minat, sikap, kebiasaan, bakat,cita-cita, latar belakang lingkungan, pola-pola perkembangan.
3.      Masalah Kebutuhan Individu
Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku untuk memenuhi kebutuhannya. Secara psikologis ada dua jenis kebutuhan, yaitu kebutuhan biologis dan sosial psikologis. Menurut Maslow kebutuhan mencakup: fisiologis, rasa aman, cinta dan dicintai, harga diri dan aktualisasi diri.
4.      Masalah Penyesuaian Diri
Dalam memenuhi kebutuhan dirinya, individu dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada proses penyesuaian inilah banyak terdapat masalah terutama bagi diri individu sendiri.
5.      Masalah Belajar
            3.  Pendidikan secara Umum
Pendidikan merupakan suatu sadar yang digunakan untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung dalam sekolah maupun luar sekolah, berlangsung seumur hidup. Maka jelas bahwa tujuan utama pendidikan adalah membangun perkembangan kepribadian anak didik secara optimal sesuai dengan potensi masing-masing. Bimbingan konseling memiliki peran penting yang pada hakikatnya merupakan konsekuensi perkembangan pendidikan yaitu bertanggung jawab dan membantu subyek didik dalam mencapai kedewasaan. Selain itu, harus mampu memahami peserta didik, sistem motivasi, pribadi, kecakapan mental dan sebagainya. Mampu memahami dirinya sendiri sebagai guru maupun konselor juga perlu. Sehingga akan mengerti kekurangannya dan mampu memperbaiki kekurangan itu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4. Filsafat
        Pemikiran dan pemahaman filsafat menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan bagi konselor pada khususnya. Bimbingan dan konseling membantu konselor dalam memahami situasi konseling dan membuat kputusan yang tepat. John J. Pietrofesa et. al. (1980) mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-prinsip filosofis dalam bimbingan sebagai berikut:
a. Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan harga diri individu dan hak-haknya untuk mendapat bantuannya.
b. Bimbingan merupakan proses yang berkeseimbangan.
c. Bimbingan harus respek terhadap hak-hak klien.
d. Bimbingan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental.
e. Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya.
f. Bimbingan merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat individualisasi dan sosialisasi.
   Setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia.


Referensi :
·         Rifa’I, Achmad dan T.A, Catharina. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS
·         http://animenekoi.blogspot.com/2011/06/rasional-pentingnya-bimbingan-dan.html  diakses pada hari Senin tanggal 09 September  2013 pukul 09.48 WIB
·         http://abisavitdemulf.blogspot.com/2012/03/dasar-dasar-bimbingan-dan-konseling.html diakses pada hari Senin tanggal 09 September 2013 pukul 09.50 WIB
·  http://nururrokhim.wordpress.com/2011/11/30/peper-bk-1/ diakses pada hari Rabu tanggal 11 September 2013 pukul 05.54 WIB



Rasionel Bimbingan dan Konseling


Bimbingan dan Konseling merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh konselor kepada individu maupun kelompok  (konseli) agar konseli dapat memahami dirinya sehingga menyelesaikan problem yang dihadapinya serta mengembangkan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki secara mandiri untuk masa depan yang baik dan mencapai kesejahteraan hidup.
Rasional pentingnya bimbingan dan konseling, dipandang dari dua tinjauan yang berbeda, yaitu dari tinjauan konstitusional dan tinjauan konsepsual.
A.    Tinjauan Konstitusional
Keberadaan pelayanan bimbingan dan konseling dalam konteks pendidikan nasional telah memiliki hukum yang kuat dan menjadi bagian terpadu dalam Sistem Pendidikan Nasional dengan diakuinya predikat konselor secara eksplisit di dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur. Pengakuan legalitas predikat konselor ini sejalan dengan paradigma yang mengandung konsep definisi pendidikan reposisi. Bimbingan dan Konseling Kartadinata (2003) menjelaskan bahwa fokus kegiatan pendidikan tidak lagi terletak sebatas kegiatan mengajar dengan mengutamakan peranan guru, melainkan dengan sengaja melibatkan berbagai profesi pendidik, termasuk konselor untuk menangani ragam aspek perkembangan dimensi belajar dengan menggunakan pola relasi dan transaksi yang beragam pula. Oleh karena itu, adanya bimbingan dan konseling diharapkan dapat membantu peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya dan mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal.
B.     Tinjauan Konseptual
Pemberian layanan bimbingan dan konseling merupakan integral dari pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah layanan profesional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan, namun harus dimulai  dan berpijak dari inti yang kokoh, yang berdasarkan hasil pikir dan penelitian yang valid. Adanya pegangan yang jelas dan kokoh diharapkan dapat mengembangkan layanan bimbingan dan konseling, baik secara teori maupun praktik yang dapat dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia, khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling bisa saja terjadi bila pegangannya tidak kokoh dan yang akan menjadi korbannya adalah konseli (klien).
Dalam hubungannya dengan rasionel bimbingan dan konseling juga membahas :
1.      Perkembangan Sosial Budaya
Dimensi sosial dan dimensi kebudayaan merupakan bagian yang harus dipahami oleh konselor sebagai faktor yang mempengaruhi perilaku individu. Pada dasarnya individu merupakan bagian dari lingkungan sosial-budayanya dimana ia hidup sejak lahir. Sejak globalisasi mencuat nampaknya telah  membawa pengaruh besar terhadap kehidupan sosial budaya dan perkembangan anak-anak,  remaja dan pemuda yang ada di Indonesia. Perubahan demi perubahan terjadi dalam berbagai bidang seperti, ekonomi, politik, sosial, dan keadaan psikologis masyarakat. Akibatnya yang akan timbul ialah semakin banyaknya individu, peserta didik di sekolah, pemuda serta warga masyarakat lainnya yang dihimpit oleh berbagai tantangan, ketidakpastian, terlempar dan terhempas oleh berbagai harapan dan keinginan yang tidak dapat terpenuhi.Apabila keadaan psikologis masyarakat tidak dapat menerima dengan baik perubahan yang terjadi maka dapat menimbulkan culture lag maupun culture shock.
Untuk dapat tetap hidup dalam perkembangan dunia yang semakin maju dan pelik ini kita harus dapat memilah hal-hal positif yang pastinya dapat dijadikan bahan sebagai pengembang potensi pada diri secara optimal. Di sinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling baik formal maupun informal. Atas dasar keadaan tersebut, sekolah sebagai lembaga formal harus mendidik dan membimbing siswa agar berhasil menyesuaikan diri di lingkungan masyarakatdan mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya sekaligus dalam rangka mewujudkan manusia seutuhnya. Dalam kaitan ini dirasakan bahwa sekolah terlebih lagi menanggung akibat dari berbagai perubahan besar tersebut (De Cecco & Richards, 1978). Bahkan dapat ditegaskan kehidupan anak-anak, remaja dan masayarakat apada umumnya  adalah hasil dari perubahan sosial dan budaya yang terjadi.

Referensi :
·         Prayitno dan Amti, Erman.2008.Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta:Rineka Cipta (Cetakan Kedua)
·         http://animenekoi.blogspot.com/2011/06/rasional-pentingnya-bimbingan-dan.html  diakses pada hari Senin tanggal 09 September  2013 pukul 09.48 WIB
·         http://abisavitdemulf.blogspot.com/2012/03/dasar-dasar-bimbingan-dan-konseling.html diakses pada hari Senin tanggal 09 September 2013 pukul 09.50 WIB

·         http://utamy-dylezta.blogspot.com/2011/09/bimbingan-konseling.html  diakses pada hari Rabu tanggal 11 September 2013 pukul 05.56 WIB